Kompasnewsinvestigasi.Id~BANYUASIN – Musim kemarau yang berkepanjangan kembali menjadi momok bagi para petani di Kecamatan Rantau Bayur, Kabupaten Banyuasin, Sumatera Selatan. Di Desa Tebing Abang dan Desa Rantau Bayur, para petani terpaksa menghadapi dilema berat: menambah biaya produksi secara signifikan untuk mengairi sawah menggunakan pompa air, atau pasrah menunggu hujan yang tak kunjung turun dengan risiko gagal panen.
Rinto, warga Dusun 4 Desa Tebing Abang, mengungkapkan bahwa bagi petani yang memiliki akses ke sumur bor, tantangan utama saat ini adalah beban finansial. Mereka harus mengeluarkan uang lebih besar untuk membeli bahan bakar seperti bensin, solar, atau gas elpiji demi mengoperasikan mesin pompa irigasi setidaknya sekali seminggu.
“Kalau tidak dipompa, padi akan kering dan mati. Kami terpaksa ‘merogoh kocek’ lebih dalam hanya untuk menjaga agar tanaman tetap hidup sampai masa panen,” keluh Rinto, sabtu (25/07/2026).
Kondisi yang lebih memprihatinkan dialami oleh petani yang tidak memiliki sumur bor di lahan mereka dan berlokasi jauh dari sumber air sungai. Luken, warga Dusun 1 Desa Rantau Bayur, menceritakan bahwa bagi petani yang tidak mempunyai sumur bor terpaksa “menunggu nasib”. Tanpa infrastruktur irigasi yang memadai, mereka hanya bisa berharap pada curah hujan alami yang sangat minim saat ini.
“Bagi masyarakat yang jauh dari sungai dan tidak punya sumur, rasanya seperti pasrah. Mau usaha bagaimana lagi kalau alatnya tidak ada? Kami khawatir sawah kami akan gagal panen total,” ucap Luken dengan nada prihatin.
Menyikapi kondisi ini, para petani di kedua desa tersebut menyuarakan harapan mendesak kepada Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Kabupaten Banyuasin. Dan propinsi Sumatra Selatan petani desa rantau bayur dantebing abang meminta agar pemerintah segera mengalokasikan anggaran untuk program pembuatan sumur bor dan penyediaan mesin pompanisasi di area persawahan.
“Kami berharap Bapak/Ibu di Dinas terkait bisa mendengar jeritan kami. Jika ada bantuan sumur bor dan mesin pompa, kami siap membayar biaya operasionalnya sendiri, seperti beli bensin atau gas. Yang kami butuhkan adalah fasilitasnya agar saat kemarau datang, kami tidak lagi gagal panen,” tambah Rinto mewakili rekan-rekan petaninya.
Pihak Pemkab Banyuasin diharapkan dapat merespons cepat aspirasi ini melalui percepatan pembangunan infrastruktur pertanian tahan kekeringan. Langkah nyata tersebut dinilai krusial untuk menjaga ketahanan pangan lokal dan kesejahteraan ekonomi petani di wilayah Rantau Bayur yang selama ini menjadi lumbung padi di Banyuasin.
(Tim Redaksi)











