Kompasnewsinvestigasi. Id~PALEMBANG – Kenaikan harga berbagai komoditas kembali membebani kantong masyarakat Kota Palembang. Kali ini, giliran harga oli mesin kendaraan—baik roda dua maupun roda empat—yang mengalami lonjakan signifikan dalam beberapa bulan terakhir. Keluhan ini disampaikan langsung oleh Robi Adira, seorang warga Palembang yang rutin melakukan perawatan kendaraannya.
Robi menceritakan bahwa biaya yang harus ia keluarkan untuk sekali ganti oli kini telah membengkak drastis. Jika sebelumnya ia hanya perlu merogoh kocek sekitar Rp360.000, kini angka tersebut melonjak hampir menyentuh Rp500.000.
“Dulu paling keluar uang Rp360.000 sudah dapat oli bagus plus jasa servis. Sekarang? Harganya hampir Rp500.000. Naiknya lumayan bikin pusing, apalagi ini kebutuhan rutin yang tidak bisa ditunda,” keluh Robi saat ditemui di sebuah bengkel langganannya di kawasan Palembang, sabtu (12/09/2026).
Dampak Melemahnya Rupiah dan Kenaikan Bahan Baku
Kenaikan harga oli ini diduga kuat dipengaruhi oleh melemahnya nilai tukar Rupiah terhadap Dolar AS serta naiknya harga bahan baku minyak dasar (base oil) di pasar global. Sejumlah merek oli ternama dilaporkan menaikkan harga jualnya di tingkat distributor hingga 10-30 persen sejak awal tahun 2026.
Para pemilik bengkel juga mengakui kesulitan mereka. Meski ingin meringankan beban konsumen, mereka terpaksa menyesuaikan harga jual karena margin keuntungan yang semakin tipis akibat kenaikan harga beli dari supplier.
“Kami juga berat hati menaikkan harga, tapi kalau tidak disesuaikan, kami yang rugi. Oli itu barang impor atau setidaknya bahan bakunya tergantung kurs dollar. Jadi mau tidak mau, harga di bawah ikut naik,” jelas salah satu pemilik bengkel di wilayah alang alang lebar
Warga Diminta Lebih Selektif
Menyikapi kondisi ini, para ahli otomotif menyarankan agar warga lebih selektif dalam memilih jenis oli sesuai spesifikasi mesin kendaraan, bukan sekadar mengikuti tren merek mahal. Selain itu, perawatan berkala seperti pengecekan filter udara dan sistem pembakaran juga perlu diperhatikan agar konsumsi oli tidak boros.
Bagi warga seperti Robi, kenaikan ini menjadi pengingat bahwa daya beli masyarakat terus diuji oleh inflasi sektor energi dan otomotif. Ia berharap pemerintah dapat memantau stabilitas harga suku cadang dan pelumas agar tidak semakin memberatkan masyarakat kelas menengah ke bawah.
“Semoga ini hanya sementara. Kalau terus begini, mau bawa mobil ke mana-mana saja jadi mikir duluan,” tutup Robi.
(Tim Redaksi)











