Kompasnewsinvestigasi.Id~BANYUASIN – Ketegangan mulai terasa di perairan Sungai Musi, tepatnya di wilayah Desa Tebing Abang, Kecamatan Rantau Bayur, Kabupaten Banyuasin. Para nelayan tradisional setempat menyatakan kekhawatiran serius atas maraknya lalu lalang ponton pengangkut batubara yang dinilai mengganggu aktivitas penangkapan ikan mereka.
Salah satu nelayan senior, Mus Mulyadi, atau akrab di sapa cik bitat mengungkapkan bahwa kenyamanan dan keamanan melaut yang selama ini mereka nikmati kini telah hilang. Ia menceritakan bagaimana ritme kerja nelayan harus terus-menerus terputus akibat wajibnya mengangkat jaring setiap kali ponton besar melintas.
“Selama ini kami pasang jaring dengan nyaman. Tapi semenjak aktivitas ponton batubara semakin padat, kenyamanan itu hilang. Cak mane nak dapat hasil? (Bagaimana mau dapat hasil?),” keluh Mus Mulyadi saat ditemui awak media, Kamis (13/08/2026).
Bitat menjelaskan bahwa ukuran ponton batubara yang besar dan arus air yang ditimbulkannya memaksa nelayan untuk segera menarik jaring mereka sebelum terjadi kerusakan atau keterlibatan dalam jalur pelayaran kapal. Proses “menjemput” ponton lewat ini memakan waktu dan tenaga, serta mengurangi durasi efektif penjaringan ikan.
“Jaring baru saja dipasang, tiba-tiba ada ponton lewat. Mau tidak mau, kami harus pecat dulu jaringnya sampai ponton itu lewat. Kalau sudah begitu, ikan-ikan yang sudah mendekat jadi buyar. Ini sangat merugikan kami secara ekonomi,” tambahnya dengan nada kesal.
Kondisi ini diperparah oleh minimnya jalur khusus atau pengaturan lalu lintas perairan yang memprioritaskan keselamatan nelayan kecil. Nelayan merasa tersudut di perairannya sendiri, di mana hak mereka untuk mencari nafkah seolah-olah kalah oleh kepentingan industri ekstraktif.
Warga Desa Tebing Abang berharap adanya mediasi dari pemerintah daerah, dalam hal ini Dinas Perhubungan dan Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Banyuasin, bersama perusahaan pengelola ponton. Mereka menuntut adanya regulasi jam operasional atau jalur pelayaran tertentu yang tidak memotong area tangkapan ikan tradisional secara membabi buta.
“Kami tidak minta dilarang, tapi kami minta diatur. Jangan sampai kami sebagai pemilik sungai justru menjadi korban di sungai sendiri,” pungkas cik bitat
Hingga berita ini diturunkan, para nelayan masih terus memantau pergerakan ponton sambil berharap ada solusi konkret yang dapat mengembalikan ketenangan dan produktivitas mereka di Sungai Musi.
(Tim Redaksi











