Lamaran Redo Fratama & Yumi Berlangsung Lancar Berlandaskan Ajaran Islam untuk Bangun Keluarga Sakinah Mawaddah Warahmah

BANYUASIN, kompasnewsinvestigasi.id – Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri, agar kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antaramu rasa kasih dan sayang. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.” (QS. Ar-Rum: 21).

 

Bacaan Lainnya

Pesan suci Al-Qur’an ini menjadi landasan bagi acara lamaran yang diadakan di rumah calon mempelai wanita di Desa Petaling, Kabupaten Banyuasin, Sumatera Selatan, pada Minggu (25/01/2026).

Acara lamaran antara Redo Fratama dan Yumi berlangsung meriah, penuh suka cita, dan sarat akan makna spiritual serta budaya lokal.

 

Keluarga besar kedua belah pihak hadir dengan penuh kehangatan untuk menyaksikan momen sakral ini, di mana dua hati dan dua keluarga akan menyatu dalam ikatan yang diridhoi Allah SWT.

 

Sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu:

 

 

“Wahai para pemuda, barang siapa di antara kamu yang telah mampu, maka menikahlah, karena pernikahan akan lebih bisa menjaga mata dan kemaluan. Dan barang siapa yang belum mampu, maka berpuasalah, karena puasa merupakan benteng penjagaan.” (HR. Bukhari: 5065).

 

Suasana yang penuh berkah mulai terasa sejak awal acara, dengan pembacaan doa permohonan restu dan keberkahan dari Allah SWT untuk kedua calon mempelai serta keluarga mereka.

Dalam prosesi lamaran yang dilaksanakan sesuai dengan ajaran Islam dan tradisi lokal, pihak keluarga calon mempelai pria menyerahkan cincin lamaran, mahar, dan seserahan kepada keluarga calon mempelai wanita.

 

Mahar yang menjadi bagian penting dalam pernikahan Islam bukan hanya sebagai simbol keseriusan dan komitmen, tetapi juga sebagai bentuk penghormatan terhadap martabat calon istri dan tanda bahwa pernikahan ini didasari oleh rasa cinta yang tulus dan rasa tanggung jawab yang kuat.

 

Mengingat sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu:

“Perempuan dinikahi karena empat hal; karena hartanya, nasabnya, kecantikannya, dan agamanya. Maka pilihlah yang memiliki agama, niscaya kamu akan beruntung.” (HR. Bukhari dan Muslim).

 

Suasana haru dan bahagia memenuhi setiap sudut ruangan, terutama saat kedua calon mempelai saling bertatap mata sambil mengucapkan janji untuk saling mencintai, menghormati, dan mengasihi satu sama lain sesuai dengan ajaran agama.

 

Momen kehangatan semakin diperkuat dengan tradisi bertukar pantun antara kedua pihak keluarga, di mana setiap bait pantun menyampaikan harapan baik, rasa syukur, dan doa restu untuk masa depan kedua calon mempelai.

 

Dalam sambutannya, perwakilan keluarga calon mempelai laki-laki mengucapkan ribuan terima kasih dengan penuh penghormatan.

 

“Kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada keluarga calon mempelai perempuan yang telah menerima kami dengan tangan terbuka dan menyambut rombongan dengan penuh kehangatan.

 

Semoga kebaikan yang diberikan ini menjadi amalan yang diterima oleh Allah SWT,” ujarnya dengan penuh rasa syukur.

 

Sementara itu, perwakilan keluarga calon mempelai perempuan, Hoiri Nawawi, dalam sambutannya menyampaikan ucapan selamat datang yang hangat.

 

“Selamat datang kepada keluarga besan kami yang datang dari Desa Sidangmas beserta rombongan. Segala yang Anda bawa sebagai tanda kasih sayang dan keseriusan, kami terima dengan penuh rasa syukur.

 

 

Atas segala kekurangan dalam penerimaan kami hari ini, kami mohon maaf yang sebesar-besarnya.

 

Semoga Allah SWT mengampuni segala kekhilafan dan memberikan keberkahan pada hubungan keluarga kita yang baru ini,” tutupnya dengan penuh keikhlasan.

 

Beliau juga menyampaikan harapan agar kedua calon mempelai dapat membangun rumah tangga yang sesuai dengan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu.

 

 

“Dunia ini adalah perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah istri yang shalihah.” (HR. Muslim).

 

Acara yang penuh berkah ini juga dihadiri oleh tokoh masyarakat yang menjadi saksi dari ikatan kasih sayang ini, antara lain Kepala Desa Sidangmas Iswadi beserta perangkatnya, serta Kepala Desa Petaling Suhardi, S.H., bersama jajaran perangkat desa.

 

Kehadiran mereka menjadi bukti bahwa pernikahan bukan hanya urusan dua orang atau dua keluarga, tetapi juga menjadi acara yang diperhatikan dan didukung oleh masyarakat sebagai bagian dari menjaga keharmonisan kehidupan bermasyarakat.

 

Sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu:

 

 

“Jika datang kepada kamu orang yang kamu senangi agamanya dan akhlaknya, maka nikahkanlah dia (dengan putrimu). Jika kamu tidak menerima, niscaya akan terjadi fitnah di bumi dan kerusakan yang luas.” (HR. At-Tirmidzi).

 

Selain prosesi utama, acara lamaran juga diwarnai dengan tradisi adat dan budaya lokal yang telah mengakar dalam masyarakat Banyuasin, seperti penyerahan seserahan yang memiliki makna filosofis tentang tanggung jawab bersama membangun rumah tangga, serta pembacaan doa oleh orang tua atau tokoh agama untuk memohon keberkahan agar pernikahan kedua calon mempelai penuh kebahagiaan, keselamatan, dan ridho Allah SWT.

 

Keluarga dan tamu undangan juga turut memberikan ucapan selamat dan doa restu, berharap agar Redo dan Yumi dapat membangun rumah tangga yang kokoh, penuh kasih sayang, dan menjadi contoh bagi banyak orang.

 

Dengan dukungan dari semua pihak dan berlandaskan pada ajaran Islam yang lurus, acara lamaran berjalan dengan lancar dan penuh berkah, tanpa adanya hambatan apapun.

 

Semoga ikatan cinta antara Redo Fratama dan Yumi akan terus kuat dan membawa keberkahan bagi kedua keluarga serta menjadi bagian dari pembangunan keluarga sakinah, mawaddah, dan warahmah di Kabupaten Banyuasin.(red)

banner 300x250

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *