Muara Enim , Kompasnewsinvestigasi.id – Sebuah insiden mengejutkan terjadi di jalur transportasi batu bara, di mana sejumlah truk pengangkut “emas hitam” dilaporkan tertahan di dua lokasi berbeda. Sebanyak 12 unit truk kini berada di Rumah Makan Kepala Desa Tanjung Raman, sementara 4 unit lainnya mendekam di Terminal Kota Prabumulih. Kamis (30/10/2025).

Menurut keterangan salah seorang sopir truk bernama Toni, rombongannya dipaksa putar balik di Tugu Nanas Kota Prabumulih oleh aksi masyarakat dan LSM. “Kami sampai di Tugu Nanas disuruh putar balik. Kami sudah rugi, Pak! Ke Muara Enim 160 (ribu) berdua,” keluhnya saat ditemui.

Toni juga mengungkapkan kerugian akibat pemborosan BBM yang mencapai 200 liter. “Kami hanya sebagai sopir, mau bagaimana lagi, Pak,” imbuhnya dengan nada pasrah.
Saat ditanya lebih lanjut, Toni mengaku bahwa armada tersebut berasal dari Palembang dan mengangkut batu bara dari wilayah Merapi Lahat dan Tanjung Enim, dengan tujuan akhir jalan tol Prabumulih.
Lebih lanjut, Toni menjelaskan bahwa setelah berada di Rumah Makan di Desa Tanjung Raman, Muara Enim, mereka kemudian stanbay menunggu instruksi lebih lanjut.
Total ada 12 unit truk yang ditahan di Tanjung Raman, dengan 4 unit lainnya “terjebak” dan ditahan di Terminal Prabumulih.
Hingga berita ini diterbitkan, tim media masih terus berupaya menggali informasi lebih dalam terkait kisruh angkutan batu bara ini, termasuk mencari tahu kejelasan mengenai legalitas operasional mereka.
Sayangnya, saat dimintai keterangan lebih lanjut dan hendak didokumentasikan, para sopir memilih untuk bungkam, menambah misteri di balik peristiwa ini.
Sumber: Investigasi Lapangan Pewarta Sumsel










