Pedamaran, OKI, Kompasnewsinvestigasi.id – Jalan berlubang dan berdebu, itulah pemandangan sehari-hari yang harus dihadapi warga Desa Sukadamai. Kondisi jalan yang semakin memburuk ini bukan hanya mengganggu aktivitas sehari-hari, tetapi juga memicu kemarahan warga. Janji manis Bupati Muchendi dan Wakil Bupati Supriyanto saat kampanye, yang menjanjikan perbaikan infrastruktur, kini terasa seperti mimpi di siang bolong.

“Kami merasa diabaikan,” ungkap seorang warga Sukadamai dengan nada kecewa. “Setiap tahun, kami menyumbang pajak kendaraan, pajak dari berbagai profesi, bahkan hasil lelang lebak lebung. Tapi, kenapa jalan kami dibiarkan hancur seperti ini”
Warga mempertanyakan keadilan dan transparansi. Dana CSR dari perusahaan-perusahaan yang beroperasi di sekitar Pedamaran seolah lenyap tanpa jejak. Padahal, dana tersebut sangat diharapkan untuk memperbaiki jalan yang kondisinya sudah sangat memprihatinkan, bahkan hingga area pemakaman umum.
Selain jalan rusak, warga juga mengeluhkan lampu penerangan jalan yang mati. Kondisi ini membuat jalanan gelap gulita di malam hari, mengancam keselamatan pengendara dan meningkatkan risiko kriminalitas.
“Kami tidak ingin hanya mendengar janji. Kami butuh bukti nyata!” tegas warga lainnya.
Budi Rizkiyanto, Koordinator LSM Gerakan Persatuan Pemuda Mahasiswa Peduli Sumatera Selatan (GPPMS), menyatakan dukungan penuh kepada warga Sukadamai. Ia siap mengoordinasi aksi demonstrasi di depan kantor bupati OKI jika pemerintah tidak segera bertindak.
“Jika keluhan ini terus diabaikan, kami akan mengajak seluruh warga Sukadamai turun ke jalan. Kami akan menuntut hak kami!” seru Budi dengan lantang.
Warga Sukadamai berharap pemerintah daerah segera membuka mata dan telinga. Jalan yang layak adalah hak mereka, bukan sekadar janji politik yang dilupakan.
(Tim/Red)






