Artikel Opini : Tragedi Banjir Sumatera – Saatnya Merenung dan Bertindak, Oleh Deni Wijaya

Air mata Sumatera tumpah. Banjir bandang dan tanah longsor yang memorak-porandakan Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat bukan sekadar angka statistik, melainkan tragedi kemanusiaan yang menggugah nurani kita semua. Lebih dari 700 nyawa melayang, ratusan hilang, dan jutaan lainnya kehilangan tempat tinggal serta mata pencaharian. Rabu (03/12/2035).

Sebagai pewarta dari Sumsel, hati saya turut perih menyaksikan saudara-saudara kita di ujung barat Indonesia berjuang melawan dahsyatnya alam. Bencana ini bukan hanya musibah lokal, melainkan cermin buram dari ketidakseimbangan relasi manusia dengan alam. Curah hujan ekstrem dan Siklon Tropis Senyar hanyalah pemicu, bukan akar masalah.

Akar masalahnya adalah deforestasi, alih fungsi lahan yang tidak terkendali, serta abainya kita terhadap prinsip-prinsip pembangunan berkelanjutan. Hutan yang seharusnya menjadi benteng alami penahan air, kini gundul dan tak berdaya. Sungai yang seharusnya menjadi urat nadi kehidupan, kini dipenuhi sampah dan sedimentasi.

Data BNPB awal Desember 2025 mencatat dampak yang mengerikan: lebih dari 700 nyawa melayang, dan ribuan lainnya terdampak. BNPB juga mencatat 14 bencana didominasi banjir dan longsor hanya di bulan November, dan lebih dari seribu kejadian banjir dari Januari hingga September 2025 di seluruh Indonesia. Angka-angka ini seharusnya menjadi alarm bagi kita semua.

Saatnya Merenung dan Bertindak

Tragedi ini bukan hanya duka bagi Sumatera, melainkan duka bagi seluruh bangsa Indonesia. Mari kita sisihkan ego sektoral dan kepentingan pribadi, dan bersama-sama merenungkan apa yang bisa kita lakukan untuk mencegah tragedi serupa terulang kembali.

Saya mengajak seluruh elemen masyarakat, mulai dari pemerintah, pengusaha, akademisi, tokoh agama, hingga masyarakat sipil, untuk bersatu padu:

1. Memperkuat Kesadaran Lingkungan: Edukasi masyarakat tentang pentingnya menjaga lingkungan dan mengurangi aktivitas yang merusak alam harus menjadi prioritas.

2. Mitigasi Bencana: Pemerintah harus serius melakukan upaya pencegahan dan pengurangan risiko bencana, seperti penanaman pohon, normalisasi sungai, dan pembangunan sistem drainase yang baik.

3. Kesiapsiagaan: Masyarakat harus dilatih untuk menghadapi bencana, melalui pelatihan evakuasi, penyediaan shelter, dan sistem peringatan dini yang efektif.

4. Penegakan Hukum: Hukum harus ditegakkan tanpa pandang bulu terhadap pelaku perusakan lingkungan, seperti penebangan liar dan penambangan ilegal.

Mari Berbagi Kepedulian

Sebagai sesama anak bangsa, mari kita ulurkan tangan membantu saudara-saudara kita di Sumatera yang sedang berduka. Bantuan materi, tenaga, dan doa sangat berarti bagi mereka saat ini.

Saya, Deni Wijaya, bersama jajaran Media Kompas News Investigasi Group, mengajak seluruh masyarakat Indonesia untuk turut prihatin dan berpartisipasi aktif dalam upaya pemulihan pasca-bencana. Mari kita jadikan tragedi ini sebagai momentum untuk membangun Indonesia yang lebih tangguh dan berwawasan lingkungan.

Salam hormat,

Deni Wijaya
Media Kompas News Investigasi Group

banner 300x250

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *